3726 mdpl

We don’t usually take a private trip just for our own sake. But when we do, my dear, believe me it’s a total epic.
Rinjani.
Saya rasa kami memang militan.

Persiapan ke Rinjani sebenarnya panjang. Kami sudah pikirkan jauuuuuuhhh hari sebelum kami benar-benar memutuskan jadi berangkat. Haha, maklum. Kami sadar kesiapan fisik buat kami yang tidak berpengalaman itu perlu untuk perjalanan berhari-hari, apalagi faktor usia ya..?? (no mention) ;D Jadilah siang itu 28 September 2014 setelah lunch, kami pamit tidak mengantar peserta Tour De Landscape chapter Lombok Island kembali ke Surabaya karena kami menuju arah yang berbeda. Om Eko, Om Arief (Ipung), Pak Parulian, Om Ari Hans dan saya, diantar tour guide kawakan favorit kami Om Danny dari Lombok Surgawi Tour & Travel meniti tanjakan menuju desa Sembalun 600mdpl. Desa terakhir yang kami singgahi sebelum mengadu nasib ke puncak tertinggi ke-3 di Indonesia di 3726mdpl. Sounds scary already.

Wonderful scenery bahkan sebelum sampai desa Sembalun



28 September 2014. Setelah dinner secukupnya, siapkan keperluan sepanjang perjalanan dan mengatur segala prosedur penting, tepat pk 21.00 kami mulai perjalanan kami. Banyak orang mulai trekking saat subuh atau bahkan siang hari, syukurlah kami diketemukan dengan Eka, guide Rinjani kami. Eka bilang “Lebih enak berangkat malam Mas, Mbak. Sepanjang perjalanan pos 1 sampai pos 2 bisa dilewati tanpa panas-panasan.” Nerveus. Kami manggut-manggut percaya aja. Yang kami lihat di awal adalah…… gelap. Ya iyalah berangkatnya malam. Kami lewat hutan dengan pohon-pohon kurus tinggi. Tidak bisa lihat ke lain tujuan selain jalan setapak yang bercahaya karena headlamp. Hawa mulai sejuk saat kami berjalan keluar dari hutan dan berhadapan dengan batu-batu kasar dan mulai menanjak. Belum-belum sudah menanjak teman, percayalah. Istirahat pertama kami di bukit kecil beratapkan langit yang milkiway nya ngeri..!! kami jauh dari kota, bahkan jauh dari desa, tanpa lampu tanpa listrik. Ini lho esensi-nya mendekat kepada alam :)
Sejak bukit peristirahatan kami harus jalan dalam kondisi udara yang dingin dan berangin kering. Masker dipakai untuk menghangatkan hidung dan tenggorokan kami agar tidak terbakar. Sesaat kami jalan mepet ke kiri, beberapa waktu kemudian mepet ke kanan. Dan tidak ada sedikit pun bonus tanah landai. Naik-naik ke puncak gunung, darling. Setelah jalan 1 jam 45 menit, sampailah kami ke pos 1 di 4,28 km. Geez we made it through. “Tanjakan cinta? Gak ada apa-apanya..!!” kata om Eko. Well  it’s a personal record for me then, saya gak pernah naik gunung manapun kecuali Bromo dan Ijen. Bener aja sekarang saya di Rinjani. Pak parulian bilang; “ Sehaaaaaattttttt”. He was actually my no. 1 concern. He’s 50 years old already. Daaaannnnn karena saya yang bilang “Pak, justru karena sekarang sudah umur 50thn dan masih bugar. Kalau nggak sekarang ke Rinjani, kapan lagi..??” gaya banget saya T_T Meninggalkan joglo panjang di Pos 1. Kami melanjutkan perjalanan.
Pos 1 ke pos 2 adalah bonus berlimpah. Perjalanan landai di antara rumput-rumput tinggi dan relative singkat hanya 1,2 km. jam menunjuk pukul 11.30. di pos Tengengean ini kami camping untuk istirahat semalam. Eka bilang “kalian jalan kayak bule” semacam pujian :D kami nggak sendirian malam itu, ada 1 tenda lagi bersama kami sekumpulan anak muda yang juga istirahat semalam di Tengengean. Sedihnya mereka muter playlist random mulai rock, pop, ballad bikin kami susah tidur. Tapi namanya capek. Tiba-tiba sudah ganti hari.



29 September 2014. The longest day like, ever.
Buka mata. Saya dimana? Oh iya dalam tenda.
Kaki? Masih ada dan sehat. Not aching. Great.
But nothing shock me more than the scenery outside our tent. Matahari memang sudah tinggi tapi…. Lihat fotonya aja, saya gak bisa jelaskan dengan kata-kata

Here comes the sun



Pagi itu ceria banget, semalam tanpa sadar bertambah tetangga kami, sekitar 20 orang pendaki dari India, bedanya mereka istirahat di perjalanan turun. Setelah sarapan 4 sehat. Sungguh. Hebat ya, porter punya mi, ayam, sayur dan bahkan buah dan dessert (jelly kemasan sih) lengkap dengan teh dan aneka plihan kopi seduh. Gak kebayang beratnya pikulan mereka demi kenyamanan kami. Pk 08.30 kami kembali melangkah.
Bonus hanya bonus. Setelah 1,2 km landai semalam.kami dihadapkan ke 1,2 km selanjutnya ke pos extra yang gak ada baik-baiknya sama sekali..!! untungnya buat kami dan setiap orang yang melaluinya. Di setiap 10 hitungan istirahat tarik nafas, alam menjamin senyuman di wajahmu. The view worth all your effort and energy.


Nanjak tiada akhirPk. 10.00 - Pos 3 Padabalong. Kami diijinkan istirahat dan mengumpulkan tenaga selama 1 jam. Sesuatu yang sangat jarang mengingat biasanya kami cuma diberi 5-10 menit. Dalam masa istirahat banyak pendaki yang turun gunung melewati pos 3, hanya 1 kalimat terlontar dari mulut kami saat melihat mereka “wiiikkk….. kotornyaa..!! mereka itu turunnya ndlosor ta?” (berguling-guling. Red). Dan sebaliknya hanya 1 kalimat terlontar dari setiap mereka “ going up..?? good luck with this..!!” sambil menunjuk bukit batu di belakang mereka.  ehm okay, thanks. Tembok di hadapan kami, di belakang mereka, the famous “hill of sorrow” – bukit penyiksaan.
Bukit penyiksaan adalah barisan 4 bukit utama trekking rinjani. Kemiringannya mulai dari 40’ sampai 65’ dan akan kami tempuh dari ketinggian 1700++ mdpl dari pos 3 Padabalong ke Pelawangan 2567mdpl . Ya 800 meter elevasi. Pos extra. 2 bukit kami lewati dalam 1 jam. Not bad. Huff huff huff. separuh jalan lagi. Teori-nya begitu. Tapi jelas itu salah. Sampai ke puncak bukit ke-3 saja perlu 1.5 jam..!! bahkan bukit ke-3 ini belom abis teman. Kami di ketinggian 2250 mdpl dan sedang istirahat bersandar pohon pinus supaya nggak nglundung atau hilang keseimbangan sembari berdiri miring 60’. Menunggu Eka hitung sampai 10. I think I’m a bit insane doing this.





Nanjak lagi hampir 2 jam. Finally bukit ke , 2567mdpl Pelawangan Sembalun,Eka bilang ini adalah bukit terakhir sebelum suPelawangan Sembalunmmit attack. Berarti kami akan istirahat di mari. Yay yay yay yay yay..!! NO. what  ..??!! “bukan disini Mbak, masih jalan lagi sedikit… itu disana cm naik lagi 120mtr…..” kata Eka sambil nunjuk bukit lain untuk didaki yang pada ujungnya terlihat titik-titik kecil warna-warni menandakan tenda-tenda pendaki lain. Dan dari tempat kami berdiri, ukurannya terlihat sangat kecil. Ya, bukan jalan sejauh 120 mtr tapi NAIK setinggi 120 mtr Pehape sekali -_- 


2680mdpl camping area. Jam 15.30 kami duduk di pinggir tebing sambil makan donat dingin. Snack boleh nggak appetizing tapi apa yang terhampar di hadapan tenda kami sanggup membuat donat serasa cheese cake. Segara anakan tenang bagai cermin, kompleks perbukitan kawah Rinjani beriri gagah bagai benteng dan sunset. The best sunset I’ve ever seen in my whole life. Lupa sudah semua lelah perjalanan sehari semalam. Sore itu, sampai malam datang tidak ada yang tidak indah.

the best hotel view ever Berbagi matahari yang sama

“itu puncaknya. Nanti malam kita jalan sekitar 3 jam sepanjang bentangan bukit ini sampai ke kompleks puncak.. lalu bukit pasir bentuk letter E itu, tepat sebelum puncak tertinggi 3726 mdpl”  


30 September 2014
Rencanyanya kami berangkat summit attack pk 12 malam. Still long way to go
But we somehow couldn’t make it. Bahkan alarm nggak bikin saya bangun. Pk. 02.00 baru kami berangkat. Dimana-mana, perjalanan menuju puncak inilah yang paling ditakuti. Begitu pula bagi saya dan teman-teman. Meskipun kami merasa perjalanan kemarin sangat amat menguras tenaga. We know that the real battle is here and now. Tapi kami sangat diberkati, subuh itu tidak berangin. Bahkan tidak lebih dingin dari Ijen bahkan Bromo di bulan Agustus, meskipun ketingian Rinjani jelas hampir 2x lipatnya. 3 jam yang sunguh berat. Menanjak terus diantara bebatuan besar dan sirtu. Naik 2 langkah, turun 1 langkah. Lutut berusaha sangat keras. Trekking shoes, headlamp, gloves, masker dan trekking pole. Things that keep us alive.


5.30 – 3140 mdpl. Bukit pasir Letter E. hanya itu antara kami dan salah satu puncak tertingi di negeri. Sunrise sudah muncul di horizon. Kami berhenti di bagian tanah landai dan terkagum-kagum melihat panorama di sekeliling kami. 360’ horizon dan bias matahari pagi. Kehangatan yang dicurahkan mahadewi dan bagaimana cara Tuhan membuka mata kita akan betapa luar biasanya negri tempat kami berdiri.

the golden sunrise

tip to the toe




Pulang. Puas berfoto dan mengabadikan semua hal dalam visi dan memori kami. Matahari mulai terik seakan meminta kita segera berlindung dari cahayanya yang membakar. Kami kembali ke tenda. Taukah kalian perjalanan terberat yang se-subuhan kami lalui menuju summit-hood. 1 jam. Hanya 1 jam yang kami perlukan untuk turun. Sudah termasuk narsis di sana sini tanpa mau rugi, seluncur dan berguling di atas pasir. Nah! Sekarang kami tau kenapa setiap orang yang turun dari rinjani kelihatan seperti baru selamat dari reruntuhan gempa. Karena saya yakin kami terlihat seperti itu juga. Exactly the same. pulangPk. 12.00 kami meninggalkan camping area. Melalui trek yang sama seperti saat kami naik kemarin. interupsi. Benarkah ini jalan yang sama..??? how could it be possible for us to go through this yesterday..??dan yang paling penting BAGAIMANA KITA MAU TURUN..??!! we’ll find a way. Great answer from Eka. 6 jam. Perjalanan mendaki sehari semalam, kami kembali dalam 6 jam. Malah sebenarnya tidak sampai 6 jam kalau dikurangi makan siang dan leha-leha. Serta tentu foto-foto. Karena saat kami pulang, segala hal secara ajaib berubah jadi lebih indah. Mungkin karena kami, di dalam diri kami masing-masing yang berubah. Lebih menghargai alam dan mengagumi mereka dari segi-segi pandang yang baru. Dan lebih bersyukur bahwa kami diberi kesempatan untuk melakukan perjalanan ini dan kembali pulang. Tapi lelah memang tidak bisa disembunyikan. Wajah-wajah cape, keringat bercucuran dan well, halusinasi ringan.. kadar koplak kami yang sudah kelewat batas bahkan meningkat beberapa kali lipat. Rasanya nggak sampai-sampai, jalan di hadapan kami sekali lagi terlihat begitu panjang. My my.


Finally gang kecil itu, di dekat masjid. Desa Sembalun.
Waktu Eka yang berjalan di depan kami memutar balik badannya untuk bilang selamat datang kembali. Rasanya seperti ada listrik yang menyengat. Reflex kami menoleh ke belakang dan lihat puncak rinjani yang gagah. Yang entah bagaimana, pagi tadi 6 jam yang lalu. Kami ada disana. Seperti mimpi.

“Gunung tidak akan lari dikejar. Nikmati saja semua yang terjadi sepanjang perjalanan. Tidak perlu terburu-buru”


ngopi horepulang cukup 6 jam


Terimakasih buat Andi Eka Karya, guide muda yang membuat kami melihat bagaimana ‘Pecinta Alam’ yang sebenarnya. Terimakasih buat porter kami yang luar biasa, Pak Panca dan teman-teman. We definitely won’t made this trip without your help and support, physically and mentally. Terimakasih buat Om Danny, setiap ingat Lombok saya akan ingat Om Danny dan elf bersejarah yang mengantar kami lebih dekat ke Rinjani. Terimakasih yang amat sangat untuk teman-teman seperjalanan. Komandan Eko Sumartopo, Komandan Arief Ipung Siswandhono, Om Ari hans Simaela, dan Pak Parulian Tjua. I can’t even imagine walk this path if it’s not with you guys.  “Kalau ingin tau pribadi seseorang yang sebenar-benarnya. Bawa mereka mendaki gunung”

we woke up like this


taken from my iphone

that bond will never broken

taken from my iphone

epic bonus round Sept 30'14

here because you are here


There are a lot more stories to tell as our tale. where will we bring you next..??

cheers,
Allin
ijenseries.com official